Kisah Siti Si Penjual Cilok Yang Rumahnya Nyaris Hancur

shares |


Hallo man teman, jangan lupa untuk selalu membaca sampai selesai yapp... Jangan hanya sekilas saja. Dan setelah membaca sampai selesai biasakan meninggalkan komentar yapp biar saya semakin semangat buat artikel-artikel.
BANTU SHARE YAPP MAN TEMAN 🙏 😍
Jalanan yang hanya berukuran tidak lebih dari 1 tapak itu merupakan jalanan untuk menuju ke rumah tua yang ada di gang sempit Sukamanah VI, RT 03 RW 13, Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung. 

Rumah yang sudah terlihat rapuh kayu-kayunya, kumuh dan juga banyak atap yang sudah berlubang menjadikan tempat singgah itu bak sebuah gudang. Baunya pun saat tercium juga tidak enak. Hal itu lantaran rumah itu sudah kurang lebih 5 bulan tidak dihuni.

Siti Penjual Cilok Dan Anaknya Yang Paling Bungsu

Rumah yang sudah tidak dihuni selama 5 bulan itu adalah rumah milik Siti Belani dan Andri Rismanwansyah. Tidak mempunyai cukup dana untuk merenovasi mengakibatkan rumah itu harus merasakan rapuh dimakan jaman. Rumah tersebut merupakan warisan dari kedua orang tuanya. Sebenarnya, rumah yang saat ini dalam kondisi hancur itu dulu pernah sempat disekat dua untuk dibagi dengan sang adik.

Kini, Siti Belani dan Andri Rismawansyah serta keempat anaknya yang masih bersekolah SMK, SMP, SD dan juga 1 anak langsung masih berusia 2 tahun tinggal pada ruangan yang hanya berukuran tiga kali tiga meter. Ruangan itu kepunyaan bibinya, yang dipinjamkan sejak rumah Siti hancur tergerus jaman.

Jatuh sakitnya suami Siti, Andri menambah penderitaan hidupnya semakin dalam. Sejak suaminya sakit, Siti harus rela menjadi tulang punggung dan kerja keras untuk bisa membiayai anak-anaknya. Ia berjualan cilok buatan sendiri dengan setiap pagi berdagang di sekolah. Semangat inilah yang sampai kini diperlihatkan Siti untuk bisa bertahan hidup.

Tidak hanya berjualan Cilok, Siti setiap hari juga merawat suami yang sudah tidak lagi bisa bekerja, Mencuci dan menyelesaikan pekerjaan rumah. Keterbatasan pendidikan dan ekonomi membuat Siti harus mau hidup dalam garis kemiskinan.

Akan tetapi dibalik itu semua, semangat Siti dan juga 4 anaknya tidak pernah padam. Sejak pagi anak-anaknya menenteng wadah yang berisikan cilok untuk dijajakan di sekolah. Mereka melewati jalan yang hanya setapak di Gang Sempit Sukamanah. Langkah kaki itu terus menyusuri jalanan sampai ke sekolah. Meski bisa dibilang jarak antara rumah dan sekolah cukup jauh.

Penghasilan yang kadang cukup dan kadang tidak dari penjualan Cilok, membuat Siti terus memutar otaknya untuk bisa berhemat agar cukup. Siti memiliki harapan bisa tinggal di rumahnya sendiri. Akan tetapi apa daya hal itu hanya menjadi impian karena tidak adanya biaya untuk renovasi.

Keterbatasan pendidikan menjadi masalah bagi Siti lantaran ia tidak bisa bekerja. Kini ia harus membiayai keempat anaknya dan juga suaminya yang sakit dengan berjualan Cilok di sekolah.

Baca Juga Yang Ini yapp

BUAT TEMEN-TEMEN YANG MAU GABUNG JADI SAHABAT MAS IFAN DI GRUP WA BISA KONTAK SAYA DISINI WA 0831-9534-4214, JADI YANG PALING PERTAMA TAHU ADA ARTIKEL MENARIK DAN KEGIATAN MAS IFAN DI GRUP WA SECARA LANGSUNG... ENJOYY