BOng, Toilet Sungai Yang Menjadi Bukti Jika Masih Banyak Orang Indonesia Yang Berak Sembarangan

shares


Hallo man teman, jangan lupa untuk selalu membaca sampai selesai yapp... Jangan hanya sekilas saja. Dan setelah membaca sampai selesai biasakan meninggalkan komentar yapp biar saya semakin semangat buat artikel-artikel.

GABUNG JUGA YUK DI GRUP WHATSAPP SAHABAT MAS IFAN 🙏 😍 JOIN GRUP KONTAK WA 0857-4376-2477
MasIfan.com - India, sejauh ini adalah negara yang masih memegang rekor di mana penduduk masih suka membuang feses sembarangan atau buang air besar sembarangan. Namun, itu tidak berarti bahwa negara kita Indonesia sangat pandai dalam hal ini. Menurut laporan dari UNICEF, yang dilaporkan dari halaman Vice.com, hingga 2017, masih ada persen rumah tangga di Indonesia yang anggota keluarganya masih buang air besar.

Tempat ini biasanya di hutan atau sungai, karena mereka tidak memiliki toilet di rumah mereka. Nah, yang akan dibahas Boombastis.com di sini adalah kebiasaan buang air besar sembarangan yang umum di daerah Sumatra Selatan.

Namanya Bong, berbentuk seperti bilik kayu

Toilet Bong

Sebagian besar yang menggunakan Bong adalah orang-orang yang tinggal di tepi Sungai Musi. Bong sendiri adalah kotak kayu yang dibuat menyerupai rumah kecil yang hanya muat satu jongkok. Bong ini terkadang dibuat dengan atap, ada juga yang tidak menggunakan atap. Nah, disinilah orang buang air besar. Bong ini biasanya diletakkan di ujung batang (rakit apung) yang digunakan sebagai tempat mandi. Ya, tujuannya jelas, agar kotoran tidak mengalir dan hanyut ke arah orang yang dingin mandi, mencuci, dan menyikat gigi. Jangan bayangkan, saya tahu Anda akan jijik, kan?

Bong berdiri di atas batang kayu yang disebut batang

Bong biasanya dibuat dari kayu

Nah, seperti yang dijelaskan di atas, Bong ini berdiri di atas kayu. Kayu-kayu ini diikat dan dibuat melayang sebagai tempat memandikan orang yang tinggal di sekitar sungai (dan tentu saja mereka tidak memiliki toilet atau kamar mandi di rumah). Batang (bak) disangga di tepi Sungai Musi, terbuat dari garpu (pasak) dengan tali yang terhubung ke batang sehingga tidak hanyut. Batang ini mengikuti musim, jika air Sungai Musi naik, batang ini juga bertambah. Dan sebaliknya.

Antrian budaya sama dengan di toilet umum

Antri masih menjadi budaya

Bong ini sebenarnya juga merupakan toilet umum, hanya lokasinya yang mengambang di sungai. Karena berada di bagasi - maksimal bisa digunakan untuk 3-4 keluarga - maka siapa pun yang menggunakan Bong juga harus sabar dan antre. Jika memang mereka sudah sekarat karena kotoran, mereka biasanya meminjam Bong di Batang tetangga yang kosong dan tidak digunakan. Mengapa bisnis seperti ini masih berlangsung sekarang, sementara buang air besar adalah masalah privasi? Nah, jawabannya, karena mayoritas orang yang tinggal di desa (dusun) masih berasal dari satu kakek nenek, jadi mereka semua adalah saudara.

Bong masih ada karena tidak ada PDAM

Tidak Ada PDM menjadi alasan BONG masih ada

Nah, kalau ada yang bertanya mengapa masih banyak daerah yang menggunakan Bong? Karena sebagian listrik dan air di wilayah Sumatera Selatan masih belum merata. Karena itu, sungai adalah tempat utama untuk kegiatan MCK. Untuk listrik, beberapa masih menggunakan generator, yang hidup pada jam 6 sore dan mati pada jam 6 pagi besok. Hal-hal seperti ini adalah hal yang biasa. Padahal, listrik dan air adalah dua elemen yang sangat penting bagi masyarakat, bukan?

Masalah buang air besar sembarangan sebenarnya adalah masalah bersama, pemerintah dan juga penduduk. Namun, sejauh ini, Indonesia dikatakan sebagai negara yang cukup sadar akan masalah buang air besar sembarangan, sebagaimana dibuktikan oleh laporan UNICEF, dalam 17 tahun terakhir, 23 persen populasi manusia di Indonesia sudah memiliki toilet dan tidak lagi buang air besar di mana saja.

Baca Juga Yang Ini yapp

BUAT TEMEN-TEMEN YANG MAU GABUNG JADI SAHABAT MAS IFAN DI GRUP WA BISA KONTAK SAYA DISINI WA 0857-4376-2477, JADI YANG PALING PERTAMA TAHU ADA ARTIKEL MENARIK DAN KEGIATAN MAS IFAN DI GRUP WA SECARA LANGSUNG... ENJOYY